Melanjutkan posting sebelumnya .... Perlawanan melalui musik bukan barang baru, bahkan definisi seni (art) sendiri adalah tak lepas dari upaya untuk memberontak atau melawan dari tatanan statis yang menjenuhkan sebagaimana Albert Camus (filsuf absurditas-eksistensialis Prancis) sampaikan sebelum ia mampus. Tapi sebagai salah satu cabang dari seni, musik adalah media paling efektif dan to-the-point dalam menyampaikan suatu “pesan” tertentu itu. Musik tidak dibatasi dimensi geometris. Musik sanggup “menyerang” langsung pendengarnya, menyusuri ruang-ruang, ”mencuci” pendapat, dan pemikiran. Oleh karenanya musik dijadikan media ekspresi yang sebenarnya paling lengkap. Sebagaimana blues menjadi medium ekspresi sosial kaum kulit hitam Amerika, sebagaimana punk menjadi ekspresi seni yang menakutkan bagi monarki Inggris, musik adalah karya seni terbesar manusia di dunia.
Saya sendiri mengenal grunge adalah ketika televisi adalah satu-satunya “Nirvana” yang menyajikan Nirvana dengan hit globalnya “Smells Like Teen Spirit” dari album Nevermind.
Televisi seakan satu-satunya jendela yang “membuka” corak-warna dunia saat itu..melalui televisi pada era 90an itu kita (kaum muda Indonesia) sebelumnya hanya disuguhi keseragaman dalam hal apapun (hampir semuanya) berbeda dengan saat ini pasca reformasi 1998 yang lebih banyak memberikan pilihan (walaupun saya merasa kebanyakan pilihan sekarang menjadi sampah !). Adalah televisi swasta yang akhirnya membuka keran masuknya kultur grunge saat itu ke Indonesia..walaupun saya yakin saat itu pun masih sedikit orang yang mampu langsung mengapresiasi dan menikmati musik yang diberikan Nirvana, Pearl Jam, ataupun Soundgarden di saat New Kids On The Block, Take That, Tommy Page, Metallica, Megadeth, Run DMC, bahkan Tommy J Pisa (haha) masih merajai kuping-kuping pendengar Indonesia. Perlu diketahui pada saat itu untuk memperoleh record album (kaset) ben luar negeri yang masih jarang didengar umum adalah sesuatu yang sangat keren atau hebat karena butuh perjuangan dan uang yang banyak untuk bisa memperolehnya atau membelinya di luar negeri/import.
Televisi seakan satu-satunya jendela yang “membuka” corak-warna dunia saat itu..melalui televisi pada era 90an itu kita (kaum muda Indonesia) sebelumnya hanya disuguhi keseragaman dalam hal apapun (hampir semuanya) berbeda dengan saat ini pasca reformasi 1998 yang lebih banyak memberikan pilihan (walaupun saya merasa kebanyakan pilihan sekarang menjadi sampah !). Adalah televisi swasta yang akhirnya membuka keran masuknya kultur grunge saat itu ke Indonesia..walaupun saya yakin saat itu pun masih sedikit orang yang mampu langsung mengapresiasi dan menikmati musik yang diberikan Nirvana, Pearl Jam, ataupun Soundgarden di saat New Kids On The Block, Take That, Tommy Page, Metallica, Megadeth, Run DMC, bahkan Tommy J Pisa (haha) masih merajai kuping-kuping pendengar Indonesia. Perlu diketahui pada saat itu untuk memperoleh record album (kaset) ben luar negeri yang masih jarang didengar umum adalah sesuatu yang sangat keren atau hebat karena butuh perjuangan dan uang yang banyak untuk bisa memperolehnya atau membelinya di luar negeri/import.
ok cukup sigitu dulu dech,tar kita sambung lagi gan,,biar penasaran dikit,, hehe
keep Grunge...
to be continued...
