Sunday, September 11, 2011

GRUNGE,, Kesederhanaan Sebagai Sikap Perlawanan 2

Melanjutkan posting sebelumnya .... Perlawanan melalui musik bukan barang baru, bahkan definisi seni (art) sendiri adalah tak lepas dari upaya untuk memberontak atau melawan dari tatanan statis yang menjenuhkan sebagaimana Albert Camus (filsuf absurditas-eksistensialis Prancis) sampaikan sebelum ia mampus. Tapi sebagai salah satu cabang dari seni, musik adalah media paling efektif dan to-the-point dalam menyampaikan suatu “pesan” tertentu itu. Musik tidak dibatasi dimensi geometris. Musik sanggup “menyerang” langsung pendengarnya, menyusuri ruang-ruang, ”mencuci” pendapat, dan pemikiran. Oleh karenanya musik dijadikan media ekspresi yang sebenarnya paling lengkap. Sebagaimana blues menjadi medium ekspresi sosial kaum kulit hitam Amerika, sebagaimana punk menjadi ekspresi seni yang menakutkan bagi monarki Inggris, musik adalah karya seni terbesar manusia di dunia.
Saya sendiri mengenal grunge adalah ketika televisi adalah satu-satunya Nirvana yang menyajikan Nirvana dengan hit globalnya Smells Like Teen Spirit dari album Nevermind.


Televisi seakan satu-satunya jendela yang “membuka” corak-warna dunia saat itu..melalui televisi pada era 90an itu kita (kaum muda Indonesia) sebelumnya hanya disuguhi keseragaman dalam hal apapun (hampir semuanya) berbeda dengan saat ini pasca reformasi 1998 yang lebih banyak memberikan pilihan (walaupun saya merasa kebanyakan pilihan sekarang menjadi sampah !). Adalah televisi swasta yang akhirnya membuka keran masuknya kultur grunge saat itu ke Indonesia..walaupun saya yakin saat itu pun masih sedikit orang yang mampu langsung mengapresiasi dan menikmati musik yang diberikan Nirvana, Pearl Jam, ataupun Soundgarden di saat New Kids On The Block, Take That, Tommy Page, Metallica, Megadeth, Run DMC, bahkan Tommy J Pisa (haha) masih merajai kuping-kuping pendengar Indonesia. Perlu diketahui pada saat itu untuk memperoleh record album (kaset) ben luar negeri yang masih jarang didengar umum adalah sesuatu yang sangat keren atau hebat karena butuh perjuangan dan uang yang banyak untuk bisa memperolehnya atau membelinya di luar negeri/import.
 

Saya pikir Nirvana datang saat itu dengan musik yang sederhana,  videoklip yang sederhana, kemasan kover kaset yang sederhana..tapi entah kenapa ada semacam energi yang terpompa dari uraian kesederhanaan itu..Nirvana memberi ambience yang berbeda soal ekspresi musik..energi liar..dan ia meresonansi dan mentranformasi emosi menjadi kesadaran bahwa memang revolusi musik waktu itu sedang terjadi ! dan euforia itu pun berlangsung.. Grunge menjadi fenomenal dan keniscayaan untuk kaum muda saat itu..Jakarta, Bandung, Surabaya dan kota-kota lain memiliki scene grunge-nya masing-masing....
ok cukup sigitu dulu dech,tar kita sambung lagi gan,,biar penasaran dikit,, hehe

keep Grunge...
to be continued...

Friday, September 9, 2011

GRUNGE,, Kesederhanaan Sebagai Sikap Perlawanan 1

"Tidak selamanya depresi dan frustasi berakibat buruk.
Bukankah banyak prestasi yang dihasilkan oleh depresi?
Karena tidak tertutup kemungkinan dari sanalah bakat mereka akan semakin terasah..."
Mengawali sebuah tulisan adalah ternyata lebih sulit dibandingkan dengan mengakhirinya. Mungkin karena budaya menulis bagi masyarakat kita yang (tetap) belum populer. Masyarakat yang begitu terlena dengan berbagai kemudahan akses informasi dan teknologi yang begitu deras atau malah ternyata karena masyarakat kita yang terlalu capek menderita,too depressed, apatis, sehingga ia sepertinya terlalu capek atau dengan eufimisme yang lebih stylish—terlalu sibuk—untuk hanya mengeluarkan pendapat, ide, gagasan, dan pengalaman melalui bentuk tulisan. Menyebarkan propaganda dan agitasinya untuk memberitakan dan menyebar kalimat pemberontakan atau perlawanan (saya lebih suka menyebut perlawanan saja) atas kesewenangan sementara perlawanan secara fisik tak bisa dilakukan, tak mampu, atau takut,maka cara paling ideal, paling aman (setidaknya sampai hari ini), paling ekonomis adalah salah satunya melalui tulisan,apakah itu sebuah puisi, artikel, cerpen, essay, atau pun hanya melalui sebuah tulisan lirik sederhana di sebuah musik sederhana dari musisi yang sederhana.

Ya, grunge adalah salah satu dari sekian banyak penanda revolusi musik dunia yang massively spread by media in 90’s era. Dari berbagai literatur disebutkan bahwa grunge lahir dari suatu komunitas yang sudah jenuh dengan konsep musik industri (mainstream) yang ada saat itu, ditambah dengan kondisi represifnya politik dan ekonomi global masa tersebut menandai eksistensi grunge tidak hanya sebagai produk kebudayaan modern tapi “sumber kekuatan” baru bagi kaum muda dunia (awalnya hanya di scene underground Seattle).
 Grunge, saya katakan, grunge bukanlah pionir, bukan perintis, bukan pelopor yang pertama kali membaca mantra besar dan mengagumkan bernama: Perlawanan. Mengapa perlawanan saya sebut sebagai mantra, karena kata mantra adalah sakral, suci, bahkan tabu, dan perlawanan hanya terjadi ketika barrier berupa norma yang membatasi mampu kita coba terobos dan kita pertanyakan atau pun kita dekonstruksi apakah untuk mewujudkan sesuatu yang lebih baik maupun ternyata lebih buruk. Tapi sebagai suatu daur kehidupan sejatinyapattern tersebut akan selalu bergulir. Dan mengapa saya sebut Perlawanan sebagai mengagumkan karena hakikatnya perlawanan adalah kondisi yang tak pernah puas untuk mencapai suatu kondisi stabil atau mapan,adalah bagaimana selalu mengkondisikan kegelisahan dan kecemasan mencapai pertanyaannya tentang hidup dan kehidupan, di mana tak selalu mendapatkan jawaban. Kadang dengan hanya bertanya kita sudah cukup mendapatkan jawaban dan itu buat saya sudah mengagumkan.
Segitu dulu gan,, tar kita sambung lagi...

Keep Grunge.....