Friday, September 9, 2011

GRUNGE,, Kesederhanaan Sebagai Sikap Perlawanan 1

"Tidak selamanya depresi dan frustasi berakibat buruk.
Bukankah banyak prestasi yang dihasilkan oleh depresi?
Karena tidak tertutup kemungkinan dari sanalah bakat mereka akan semakin terasah..."
Mengawali sebuah tulisan adalah ternyata lebih sulit dibandingkan dengan mengakhirinya. Mungkin karena budaya menulis bagi masyarakat kita yang (tetap) belum populer. Masyarakat yang begitu terlena dengan berbagai kemudahan akses informasi dan teknologi yang begitu deras atau malah ternyata karena masyarakat kita yang terlalu capek menderita,too depressed, apatis, sehingga ia sepertinya terlalu capek atau dengan eufimisme yang lebih stylish—terlalu sibuk—untuk hanya mengeluarkan pendapat, ide, gagasan, dan pengalaman melalui bentuk tulisan. Menyebarkan propaganda dan agitasinya untuk memberitakan dan menyebar kalimat pemberontakan atau perlawanan (saya lebih suka menyebut perlawanan saja) atas kesewenangan sementara perlawanan secara fisik tak bisa dilakukan, tak mampu, atau takut,maka cara paling ideal, paling aman (setidaknya sampai hari ini), paling ekonomis adalah salah satunya melalui tulisan,apakah itu sebuah puisi, artikel, cerpen, essay, atau pun hanya melalui sebuah tulisan lirik sederhana di sebuah musik sederhana dari musisi yang sederhana.

Ya, grunge adalah salah satu dari sekian banyak penanda revolusi musik dunia yang massively spread by media in 90’s era. Dari berbagai literatur disebutkan bahwa grunge lahir dari suatu komunitas yang sudah jenuh dengan konsep musik industri (mainstream) yang ada saat itu, ditambah dengan kondisi represifnya politik dan ekonomi global masa tersebut menandai eksistensi grunge tidak hanya sebagai produk kebudayaan modern tapi “sumber kekuatan” baru bagi kaum muda dunia (awalnya hanya di scene underground Seattle).
 Grunge, saya katakan, grunge bukanlah pionir, bukan perintis, bukan pelopor yang pertama kali membaca mantra besar dan mengagumkan bernama: Perlawanan. Mengapa perlawanan saya sebut sebagai mantra, karena kata mantra adalah sakral, suci, bahkan tabu, dan perlawanan hanya terjadi ketika barrier berupa norma yang membatasi mampu kita coba terobos dan kita pertanyakan atau pun kita dekonstruksi apakah untuk mewujudkan sesuatu yang lebih baik maupun ternyata lebih buruk. Tapi sebagai suatu daur kehidupan sejatinyapattern tersebut akan selalu bergulir. Dan mengapa saya sebut Perlawanan sebagai mengagumkan karena hakikatnya perlawanan adalah kondisi yang tak pernah puas untuk mencapai suatu kondisi stabil atau mapan,adalah bagaimana selalu mengkondisikan kegelisahan dan kecemasan mencapai pertanyaannya tentang hidup dan kehidupan, di mana tak selalu mendapatkan jawaban. Kadang dengan hanya bertanya kita sudah cukup mendapatkan jawaban dan itu buat saya sudah mengagumkan.
Segitu dulu gan,, tar kita sambung lagi...

Keep Grunge.....

No comments:

Post a Comment