Masih lanjutin bahasan kita tentang grunge
Perlawanan melalui musik bukan barang baru, bahkan definisi seni (art) sendiri adalah tak lepas dari upaya untuk memberontak atau melawan dari tatanan statis yang menjenuhkan sebagaimana Albert Camus (filsuf absurditas-eksistensialis Prancis) sampaikan sebelum ia mampus. Tapi sebagai salah satu cabang dari seni, musik adalah media paling efektif dan to-the-point dalam menyampaikan suatu “pesan” tertentu itu. Musik tidak dibatasi dimensi geometris. Musik sanggup “menyerang” langsung pendengarnya, menyusuri ruang-ruang, ”mencuci” pendapat, dan pemikiran. Oleh karenanya musik dijadikan media ekspresi yang sebenarnya paling lengkap. Sebagaimana blues menjadi medium ekspresi sosial kaum kulit hitam Amerika, sebagaimana punk menjadi ekspresi seni yang menakutkan bagi monarki Inggris, musik adalah karya seni terbesar manusia di dunia.
Grunge memberikan tawaran yang fresh ketika era rock, pop 80’s, metal, rap, bahkan punk mulai memberikan harapan yang kosong untuk menjadi penanda revolusi budaya dan sosial..lucunya grunge hadir ketika jaman-jamannya glam-appearance is everything…glamrock looks… Vanilla Ice looks… Debbie Gibson.. Axl Rose…etc.. tapi saat itu grunge malah hadir dengan kesederhanaannya.. grunge menawarkan semangat perlawanan dari kesederhanaan. Sebagaimana revolusi musik yang lain, (pada awalnya) grunge yang masih punya kekerabatan dengan punk ternyata memberi influence juga tentang fashion..tapi dalam tulisan ini saya tidak membahas tentang trend tersebut. Bahasan tentang sejarah “lahirnya” dan “matinya” grunge (if you called so) pun tidak saya bahas disini, karena yang saya bahas secara sederhana dan pendek disini adalah grunge sebagai produk budaya yang memberikan ruang perlawanan dengan caranya sendiri.. cara grunge.. simple.. efective...
kerja dulu bro.... tar sambung lagi...
No comments:
Post a Comment